Showing posts with label PUISI. Show all posts
Showing posts with label PUISI. Show all posts

Friday, December 17, 2021

Seperti itu



Pernahkah kau menemukan jalan yang kosong diujung sana?
Berjalan tanpa henti,
Berlarian mengejar semua hal yang tak pasti
Bahkan air matapun kadang tak tertahan

Kadang hati menjerit namun ia tetap berkata "Bertahanlah!"
Dan alam hanya menyaksikan jiwa yang mematung di persimpangan jalan

Hidup yang terkadang
Seolah-olah olah
Menolakmu untuk bernapas

Jantung yang masih berdetak
Tapi,
Terkadang terasa sesak
Saat itu waktu sedang di usik angin hebat dan dingin

Pernah kah kau menatap jalan lurus terasa hampa?
Seperti itulah aku hari ini

---
17 Desember 2021

0

Tuesday, December 7, 2021

Menembus langit ke-7

Saat ini, kali ini
Aku ingin menceritakan tentang memiliki
Tentang bagaimana kita merasakan bahagia
Tentang bagaimana kita merasakan hangatnya tawa bersama
Sesuatu dan hal yang mungkin sering kita sadari tanpa henti

Disudut kamar aku melihat foto-foto didalam memory smartphone ku
Aku mencoba mengingatnya
Tentang wajah,
Suara,
Serta kenangan yang pernah tergores diwaktu yang telah berlalu

Sungguh aku hampir lupa nada hangat tegur sapa yang telah terjadi
Rasanya baru kemarin bertemu dan melepas rindu

Kini,
Aku tidak mampu mengukir air mata dan membuat itu semua kembali
Aku hanya mampu menitipkan doa disela-sela shalatku
Entah bagaimana caranya rindu mampu sampai kepadanya disana
Entah bagaimana ia mengerti bahwa aku, kami telah begitu amat mencintainya
Tapi yang aku yakini doa ku akan menembus langit ke-tujuh dan mengantarkan mu pada tempat yang indah
Di surganya Allah Subhanahu WaTa'ala

---
Ku titip rinduku untuknya
8 Desember 2021
Liliana supono
0

Puting beliung

Ada disaat dimana.
Hidup itu tak selalu biasa saja

Ini aku bercerita tentang hal dimana
Kehidupan sedingin kau diterpa angin kencang
Tubuhmu utuh tapi mental mu seperti terkoyak satu persatu
Terbawa hilang entah kemana

Ketika jiwa ingin berteduh tetapi hanya pada sujud
Tetapi setelah itu air mata jatuh begitu deras
Seperti hujan yang sangat lebat

Aku yakin mungkin
Setiap jiwa punya kekuatan
Tetapi manusia hanyalah mahluk yang mudah patah, rapuh, dan kecewa

Lantas bagaimana diri bisa menuntun jiwa yang lemah?
Disaat jiwa sedang berputar pada banyak hal
Bahkan pada masalah yang sama
Kita hanya mampu berdoa dan kuat

Jangan lengah, jangan lemah, jangan lupa bahwa kita punya Tuhan

---
Aku 
7 desember 2021
0

Monday, October 18, 2021

Palu dan ucapan

Hari ini seperti bebetuan runtuh dari langit
Menimpa kepala ku dengan keras hingga lebur
Kata-kata mu menerkamku, menghancurkan ku
Kenapa tudingan begitu menyakitkan?
Dia tidak pergi karena ku,
Bukan aku pelakunya,
Aku tidak berbuat apapun!

Tudingan itu mengingatkan ku
Atau luka akan kehilangan

Hampir dua tahun lalu
Kejadian itu,
Peristiwa itu,
Kesedihan itu,
Begitu masih terasa
Perih,
Kehampaan

Semenjak saat itu,
Kenyataan menghardiku

Dan dengan mudah kau hancurkan hati
Mengingatkanku akan kepergiannya
Menuduhku,
Mencacimu
Aku seperti berada dibawah telapak kakimu

Dia pergi karena takdir
Takdir yang ditentukan oleh Tuhan
Berhentilah menghardik orang lain 
Demi membentuk dirimu yang besar
Berhentilah menginjak orang lain
Demi kehormatan mu yang hanya diatas ambang langit-langit rumah
Karena kesombongan itu akan menghancurkan mahluk yang berdaging

----
18/10/2021

Baca juga cerita kehilanganku DARI CAHAYA KECILMU ~ Liliana Supono
0

Thursday, August 26, 2021

DARI CAHAYA KECILMU

Ayah, Setelah kamu membentangkan tangan jauh dari sini 
Aku berusaha berjuang hanya untuk bertahan hidup 
Aku hanya berusaha tetap hidup 
Dari sekian perjuanganku untuk membuat ayah bertahan disini 
Dari sekian pengorbananku untuk membuat mu menjadi prioritas hidupku


 Aku kini kosong 
 Bagai bunga yang hanya hidup tanpa intisari 

 Bertahun-tahun berlalu
 Satu persatu harapan aku runtuh
 Hidup rasanya seperti debu yang hanya tertiup angin
 Tidak terasa apapun

 Aku begitu sunyi 
Disini, didalam hati ku 
Karena siapa lagi yang mampu menjaga batin ku selain ayah? 

Ayah, aku masih ingat saat beberapa senja sebelumnya
Ayah, kini aku seperti tidak mempunyai mimpi 
Hanya melangkah dengan kekosongan 
Ayah, pantaskah aku bermimpi? 

 Ayah, Aku cahaya kecil mu 
Yang rindu 
Yang selalu mendoakan mu dari jauh 
Ayah, aku rindu

 ---- 26 Agustus 2021----
 Untuk ayah yang kami rindu

0

Monday, December 7, 2020

BERBUKIT

Berubah jadi tinggi 
Seperti anganku atas ragam asaku 
Melepas terbang bebas seperti kepakan sayap elang, yang tatapannya begitu tajam diudara 
Meraih cahaya diujung awan, yang berbuih mengambang diangkasa 
.
Disini masih dalam pena Jika saja, 
Semua bintang jatuh tak ku hiraukan begitu saja 
Mungkin kini aku sudah dipucak itu 
Tapi semua sudah berlalu 
Diaa telah pergi bulan akhir februari 2020 Ayahku,
Meninggalkan kalimat manis seminggu sebelumnya 
Meninggalkan sesal pada waktu yang tak sanggup ku raih 
.
Begitu saja 
Begitu berat, 
Tahun yang berat 
Seperti beban jatuh dari langit, 
Bagai bongkahan batu besar tepat dikepalaku 
.
Dia pergi, pekerjaanku pun juga 
Tertatihh menapak diwaktu yang tajam Merayap terus kedalam harapan 
Tahun ini banyak orang yang hilang pekerjaan 
Berat sekali untuk mencari kesempatan 
.
Usia yang berat, 
Tak tertanggung, tak ditanggung 
Aku milik siapa? Aku dijaga siapa? 
Ah ya, ada Tuhan! 
.
Kini aku berjalan seolah tak merasakan waktu 
Biar dia bergerak, dan aku berusaha bernapas 
Harapan? Impian? 
Hanya akan ada dibukit doa 
.
 ----- 7 Desember 2020 
Untuk tahun yang berat 
Liliana supono
0

Sunday, October 25, 2020

Lambaian terakhir

Malam itu hujan deras sekali
Suara hujan terdengar seperti gema takbir
Saat itu aku sedang sendiri, ada didalam rindunya keluarga
Namun hujan rasa membuatku ingin menangis
Entah kenapa rasanya begitu sesak didada

Malam itu pukul satu handphone ku berdering
Suara diujung telepon menyuruhku pulang
Aku bergegas pulang dengan jutaan kekhawatiran

Satu jam perjalanan pagi-pagi buta,
Membuatku sudah didepan pintu IGD
Pelukan dan bisikan perlahan ibu membuatku menangis begitu kencang
Aku seperti tak bertulang
Aku telah mendengar kabar darinya

Aku ingat kata-katanya seminggu sebelumnya
"Ini anak yang paling ayah kangenin"
Tidak kusangka itu adalah ucapan rasa rindu yang sebenarnya dan selamanya

Selamat jalan ayah

25 Oktober 2020
----
Liliana supono
Untukmu ayah
0

Thursday, June 20, 2019

Tujuan

Aku ketuk pintu Mu diruang rindu
Lirih aku dalam sunyi
Nampaknya semua waktuku adalah hanya fana

Detik demi detik aku hanya berjalan
Menembus ruang menyapu airmata
Aku tak lihat siapapun, rasanya seperti itu
Aku melalui kabut waktu, tujuan ku hanya diri-Mu

Aku bersyukur karena aku mengenal Mu
Dan amanah napas ini masih beri
Dan aku tak dapat pergi, sebelum tertitah 1 daun gugur untuk ku disana

Aku bermimpi dan berharap dipelabuhan angan
Aku kadang selalu merasa itu hanya angan
Karena kadang, aku merasa diriku tak nyata
Angan yang terbentuk dari lubuk yang berdebu
Lelah yang terasa dari diri yang lemah

Aku tak berarti tanpa Mu
Aku tak nyata tanpa Mu
Namun, benarkah ini hidupku?
Atau ini hanyalah sebuah tugas dari Mu sampai aku mati?

Aku tak nyata tanpa Mu
Aku tak nyata tanpa Mu
Aku tak berdaya tanpa Mu
Wahai pemilik Arys sudikah Engkau tetap disisiku?
Aku memohon pada Mu,
Tetapkan cinta ini hanya untuk Mu
Dan hanya itu pintaku.

----
Untuk diri yang sepi
Liliana supono
20 Juni 2019

0

Saturday, April 13, 2019

Tertinggal dan ku lupa

Ada kata yang tertinggal kala itu
Ingin ku ucapkan namun ku malu

Ada niat yang tertinggal waktu itu
Ingin ku sampaikan namun aku ragu

Ada saat itu
Dan kemudian terhempas setelah itu
Karena acuh mu makin menjadi
Dan aku ragu

Mungkin ada yang tertinggal waktu itu
Hanya akan jadi kenangan yang pilu
Yang tak pernah terucap

Kini aku hanya ingin jadi jiwa yang baru

---
14 april 2019

Liliana supono

0

Kopi


Kau pahit ku candu, ku sakit kau ku tinggal pergi
Ku jenuh kau ku rindu, ku sakit kau ku tinggal pergi

Katanya yang baik untuk kita belum tentu benar baik
Ah kopi,
Ku candu, ku rindu
Ku cinta, dan ku tinggal pergi
Mungkinkah cintaku menyakitkan ku?
Atau kebutaanku yang meracuniku?
Ah kopi,
Mungkin racun itu dihatiku sendiri.

---
13 April 2019
Liliana supono

0

Wednesday, April 3, 2019

Terpatri

Dia berlari,
Menyelusuri jalan berliku
Menginjak tanah berduri
Dia lewati liku

Angin yang menerpa membuatnya jatuh
Kaki terus berdarah-darah
Sesaat ia terhenti,
Dibenaknya terpikir acuan arah
Mengapa ia harus sendiri?
Bukan, bukan itu jawabannya

Jam berdetak
Menggulung waktu mengungkap kenangan
Ia tak terhenti
Masih saja ia berlari

Meneruskan amanah kehidupan
Menepiskan keegoan dan fananya kehidupan
Ia telah tegak berdiri, walau sendiri

----
3 april 2019
Liliana supono

0

Sunday, March 17, 2019

Merindu


Diujung waktu yang lampau, aku remaja hilang arah.
Egoku merasuki alam bawah sadarku, tak sadar aku pernah membangkang hal yang benar.
Angkuh ku menodai langkah ku, aku bersandar pada hal-hal yang kiranya aku anggap benar dan selalu kutancapkan hingga rongga napasku, saat itu.

Waktu terus bergulir, aku tak pernah menyadari hati.
Aku tak pernah mampu menembus jiwa.
Lalu mulut ku pernah bersumpah seolah menantang.

Aku hanya daun kering yang gugur kemarin, terseret hempasan angin.
Lalu lalang tidak ada ujung.

Namun, tak kusangka hati terasa seperti tak terkendali.
Ada yang masuk kedalamnya dan mengacak-acak semua.
Egoku, angkuhku, seolah tersingkir dengan begitu mudah.
Ini diluar kendaliku, aku tak berdaya.

Perlahan, kakiku terpijak pada satu lantai dingin, dan karpet-karpet hangat.
Berbaur ditengah-tengah hiruk pikuk menyejukkan.
Hatiku tertambat pada suatu ruang.

Tapi aku hanyalah manusia yang hatinya mudah goyah.
Sempat ku tinggikan egoku dan aku terpikir bahwa akulah dan waktuku yang terpenting.
Tanpa aku sadari hal yang aku anggap penting itu semu.
Satu sisi nasihat menamparku, hatiku hancur kembali, berantakan lagi.
Namun entah kenapa rasa rindu menguasaiku, dan aku menangisi kebodohan-kebodohan yang telah aku perbuat.

Aku rindu, sangat rindu.
Saat kau tata ulang hatiku, untuk Mu ya Allah, hanya untukmu.

-----
17 Maret 2019
Depok,
Liliana supono

0

Saturday, July 21, 2018

Dia

Ayah janganlah gundah
Risaumu coba  diruntuhkan
Ragumu coba dirobekkan
Ketakutanmu coba dihapuskan

Ayah,
Apakah kau ingat kaki-kaki kecil yang pernah berlarian riang tak jauh dari kau berdiri?
Ia yang riang, yang tertawa, yang menangis manja saat bersama mu

Kaki itu kini tak lagi berlarian mengelilingi mu
Ia berdiri tepat disampingmu
Membopongmu jika itu perlu

Ayah jangan ada airmata penyesalan
Atas segala kegagalanmu yang telah terjadi
Karena ia tak pernah meminta untuk bertukar hidup dengan orang lain
Ia bahagia dihidupi oleh mu yang luar biasa hebat

Ayah jangan kau merasa paling lemah sedunia
Karena ia berdiri disamping mu dengan begitu kuat dan tegar
Sama seperti dirimu

Ayah jangan meragu
Walaupun ia bukanlah tercipta menjadi laki-laki
Tetapi ia telah kau ajarkan untuk bermental kuat sama seperti mu

Ayah ia disini
Berdiri, dengan cinta dan kasih sayangnya yang tulus
Ia juga akan ada untuk mu

Ayah, ia disini
Berjuang dengan keyakinan
Bahwa,
Aku anakmu
----
Liliana supono
21 Juli 2018

0

Apa

Gundah jika kau sadar napsu dunia tak ada habisnya
Risau jika kau sadar bahwa usia ada batasnya

Kau tahu lilin itu ada masanya
Dan daun-daun ada gugurnya

Kenapa kita selalu menutup mata?
Mungkinkah karena yang terlihat saat ini hanya dunia?

---
Lilianasupono
21 Juli 2018

0

Saturday, May 26, 2018

Angin salah terka

Kau gembita
Menabur irama mengundang
Mengaitkan cerita penuh warna
Kau dipertahankan angin
Hingga ia buta berkelana
Kau sandaran cerita
Berujung kau merobek percaya

Kau sahabat rela berdusta
Salah kah aku bila aku menyebutmu sebagai muka dua??

----
26 Mei 2018
Lilianasupono

0

Angin salah terka

Kau gembita
Menabur irama mengundang
Mengaitkan cerita penuh warna
Kau dipertahankan angin
Hingga ia buta berkelana
Kau sandaran cerita
Berujung kau merobek percaya

Kau sahabat rela berdusta
Salah kah aku bila aku menyebutmu sebagai muka dua??

----
26 Mei 2018
Lilianasupono

0

Wednesday, April 25, 2018

Hampir tengah hari

Waktu sedang berjalan
Berjuta kesibukan telah menyita
Ribuan, jutaan, miliyaran manusia  menghabiskan detiknya
Detik yang lalu, jam yang lalu, itu saat ayam berkokok

Kini matahari mulai menengah
Teriknya kadang menusuk kulit
Ini hampir tengah hari
Menunggu adzan dzuhur?
Atau menunggu sajian nasi?

Dan lelah kali ini akan hilang sejenak dengan kita mengucap syukur
Bahwa kita masih diberikan waktu dan kehidupan
Dan
Selamat menikmati tengah hari
----
26 April 2018
Liliana Supono

1

Tuesday, April 24, 2018

Begitu

Kau derita
Kau lelah
Kau upaya
Kau rasa
Kau bahagia
Kau cinta
Kau buta

Dunia

---
Depok, 24 April
Lilianasupono

1

Tuesday, April 17, 2018

Demi

Gemintang dunia merayu jiwa
Riuh kesibukan membuai mimpi
Dunia, asa, harapan
Ah...aku hanya bisa meraba

Dalam hitungan puluhan aku melupa
Airmata mengering dalam upaya
Entah ku lupa atau jiwa bersandiwara
Yang ku tahu ada jiwa-jiwa yang aku bawa

Dibahuku, ku berat tertatih
Ribuan doa tlah ku tabur pada sepanjang jalan
Kadang pipiku basah, kadang pipiku kering, kala mata dan hati tak sanggup ku tahan
Jiwa-jiwa itu ku harap bahagia
Walau diri rapuh melupa

Aku hanya berpasrah pada Rabb ku,
Pada Nya aku hidup, dan pada Nya aku mati
Andai saja Dia tak memberiku nyawa, akankah kurasakan cinta yang hidup pada utuhnya hati?
Dan aku....tak akan melupa bahwa hidup adalah tulisan amanah dari Nya, Rabb ku yang ku cinta.

-----
17 april 2018
Liliana supono

0

Lepaslah lirih

Aku gemuruh diam tertabuh, legam asa lirih tertatih.
Meniup angin yang tak terbaca, meraih awan yang tak teraba.
Aku kelam jumpa sang kata
Melirik waktu dan tak bernada
Habis sudah upaya buta
Menampik nyata terbuai mata
Aku kelam dalam menepi
Aku, aku.
---
17 april 2018
Liliana supono

0