Friday, December 17, 2021
Tuesday, December 7, 2021
Menembus langit ke-7
Puting beliung
Monday, October 18, 2021
Palu dan ucapan
Thursday, August 26, 2021
DARI CAHAYA KECILMU
Monday, December 7, 2020
BERBUKIT
Sunday, October 25, 2020
Lambaian terakhir
Thursday, June 20, 2019
Tujuan
Aku ketuk pintu Mu diruang rindu
Lirih aku dalam sunyi
Nampaknya semua waktuku adalah hanya fana
Detik demi detik aku hanya berjalan
Menembus ruang menyapu airmata
Aku tak lihat siapapun, rasanya seperti itu
Aku melalui kabut waktu, tujuan ku hanya diri-Mu
Aku bersyukur karena aku mengenal Mu
Dan amanah napas ini masih beri
Dan aku tak dapat pergi, sebelum tertitah 1 daun gugur untuk ku disana
Aku bermimpi dan berharap dipelabuhan angan
Aku kadang selalu merasa itu hanya angan
Karena kadang, aku merasa diriku tak nyata
Angan yang terbentuk dari lubuk yang berdebu
Lelah yang terasa dari diri yang lemah
Aku tak berarti tanpa Mu
Aku tak nyata tanpa Mu
Namun, benarkah ini hidupku?
Atau ini hanyalah sebuah tugas dari Mu sampai aku mati?
Aku tak nyata tanpa Mu
Aku tak nyata tanpa Mu
Aku tak berdaya tanpa Mu
Wahai pemilik Arys sudikah Engkau tetap disisiku?
Aku memohon pada Mu,
Tetapkan cinta ini hanya untuk Mu
Dan hanya itu pintaku.
----
Untuk diri yang sepi
Liliana supono
20 Juni 2019
Saturday, April 13, 2019
Tertinggal dan ku lupa
Ada kata yang tertinggal kala itu
Ingin ku ucapkan namun ku malu
Ada niat yang tertinggal waktu itu
Ingin ku sampaikan namun aku ragu
Ada saat itu
Dan kemudian terhempas setelah itu
Karena acuh mu makin menjadi
Dan aku ragu
Mungkin ada yang tertinggal waktu itu
Hanya akan jadi kenangan yang pilu
Yang tak pernah terucap
Kini aku hanya ingin jadi jiwa yang baru
---
14 april 2019
Liliana supono
Kopi
Kau pahit ku candu, ku sakit kau ku tinggal pergi
Ku jenuh kau ku rindu, ku sakit kau ku tinggal pergi
Katanya yang baik untuk kita belum tentu benar baik
Ah kopi,
Ku candu, ku rindu
Ku cinta, dan ku tinggal pergi
Mungkinkah cintaku menyakitkan ku?
Atau kebutaanku yang meracuniku?
Ah kopi,
Mungkin racun itu dihatiku sendiri.
---
13 April 2019
Liliana supono
Wednesday, April 3, 2019
Terpatri
Dia berlari,
Menyelusuri jalan berliku
Menginjak tanah berduri
Dia lewati liku
Angin yang menerpa membuatnya jatuh
Kaki terus berdarah-darah
Sesaat ia terhenti,
Dibenaknya terpikir acuan arah
Mengapa ia harus sendiri?
Bukan, bukan itu jawabannya
Jam berdetak
Menggulung waktu mengungkap kenangan
Ia tak terhenti
Masih saja ia berlari
Meneruskan amanah kehidupan
Menepiskan keegoan dan fananya kehidupan
Ia telah tegak berdiri, walau sendiri
----
3 april 2019
Liliana supono
Sunday, March 17, 2019
Merindu
Diujung waktu yang lampau, aku remaja hilang arah.
Egoku merasuki alam bawah sadarku, tak sadar aku pernah membangkang hal yang benar.
Angkuh ku menodai langkah ku, aku bersandar pada hal-hal yang kiranya aku anggap benar dan selalu kutancapkan hingga rongga napasku, saat itu.
Waktu terus bergulir, aku tak pernah menyadari hati.
Aku tak pernah mampu menembus jiwa.
Lalu mulut ku pernah bersumpah seolah menantang.
Aku hanya daun kering yang gugur kemarin, terseret hempasan angin.
Lalu lalang tidak ada ujung.
Namun, tak kusangka hati terasa seperti tak terkendali.
Ada yang masuk kedalamnya dan mengacak-acak semua.
Egoku, angkuhku, seolah tersingkir dengan begitu mudah.
Ini diluar kendaliku, aku tak berdaya.
Perlahan, kakiku terpijak pada satu lantai dingin, dan karpet-karpet hangat.
Berbaur ditengah-tengah hiruk pikuk menyejukkan.
Hatiku tertambat pada suatu ruang.
Tapi aku hanyalah manusia yang hatinya mudah goyah.
Sempat ku tinggikan egoku dan aku terpikir bahwa akulah dan waktuku yang terpenting.
Tanpa aku sadari hal yang aku anggap penting itu semu.
Satu sisi nasihat menamparku, hatiku hancur kembali, berantakan lagi.
Namun entah kenapa rasa rindu menguasaiku, dan aku menangisi kebodohan-kebodohan yang telah aku perbuat.
Aku rindu, sangat rindu.
Saat kau tata ulang hatiku, untuk Mu ya Allah, hanya untukmu.
-----
17 Maret 2019
Depok,
Liliana supono
Saturday, July 21, 2018
Dia
Ayah janganlah gundah
Risaumu coba diruntuhkan
Ragumu coba dirobekkan
Ketakutanmu coba dihapuskan
Ayah,
Apakah kau ingat kaki-kaki kecil yang pernah berlarian riang tak jauh dari kau berdiri?
Ia yang riang, yang tertawa, yang menangis manja saat bersama mu
Kaki itu kini tak lagi berlarian mengelilingi mu
Ia berdiri tepat disampingmu
Membopongmu jika itu perlu
Ayah jangan ada airmata penyesalan
Atas segala kegagalanmu yang telah terjadi
Karena ia tak pernah meminta untuk bertukar hidup dengan orang lain
Ia bahagia dihidupi oleh mu yang luar biasa hebat
Ayah jangan kau merasa paling lemah sedunia
Karena ia berdiri disamping mu dengan begitu kuat dan tegar
Sama seperti dirimu
Ayah jangan meragu
Walaupun ia bukanlah tercipta menjadi laki-laki
Tetapi ia telah kau ajarkan untuk bermental kuat sama seperti mu
Ayah ia disini
Berdiri, dengan cinta dan kasih sayangnya yang tulus
Ia juga akan ada untuk mu
Ayah, ia disini
Berjuang dengan keyakinan
Bahwa,
Aku anakmu
----
Liliana supono
21 Juli 2018
Apa
Gundah jika kau sadar napsu dunia tak ada habisnya
Risau jika kau sadar bahwa usia ada batasnya
Kau tahu lilin itu ada masanya
Dan daun-daun ada gugurnya
Kenapa kita selalu menutup mata?
Mungkinkah karena yang terlihat saat ini hanya dunia?
---
Lilianasupono
21 Juli 2018
Saturday, May 26, 2018
Angin salah terka
Kau gembita
Menabur irama mengundang
Mengaitkan cerita penuh warna
Kau dipertahankan angin
Hingga ia buta berkelana
Kau sandaran cerita
Berujung kau merobek percaya
Kau sahabat rela berdusta
Salah kah aku bila aku menyebutmu sebagai muka dua??
----
26 Mei 2018
Lilianasupono
Angin salah terka
Kau gembita
Menabur irama mengundang
Mengaitkan cerita penuh warna
Kau dipertahankan angin
Hingga ia buta berkelana
Kau sandaran cerita
Berujung kau merobek percaya
Kau sahabat rela berdusta
Salah kah aku bila aku menyebutmu sebagai muka dua??
----
26 Mei 2018
Lilianasupono
Wednesday, April 25, 2018
Hampir tengah hari
Waktu sedang berjalan
Berjuta kesibukan telah menyita
Ribuan, jutaan, miliyaran manusia menghabiskan detiknya
Detik yang lalu, jam yang lalu, itu saat ayam berkokok
Kini matahari mulai menengah
Teriknya kadang menusuk kulit
Ini hampir tengah hari
Menunggu adzan dzuhur?
Atau menunggu sajian nasi?
Dan lelah kali ini akan hilang sejenak dengan kita mengucap syukur
Bahwa kita masih diberikan waktu dan kehidupan
Dan
Selamat menikmati tengah hari
----
26 April 2018
Liliana Supono
Tuesday, April 24, 2018
Tuesday, April 17, 2018
Demi
Gemintang dunia merayu jiwa
Riuh kesibukan membuai mimpi
Dunia, asa, harapan
Ah...aku hanya bisa meraba
Dalam hitungan puluhan aku melupa
Airmata mengering dalam upaya
Entah ku lupa atau jiwa bersandiwara
Yang ku tahu ada jiwa-jiwa yang aku bawa
Dibahuku, ku berat tertatih
Ribuan doa tlah ku tabur pada sepanjang jalan
Kadang pipiku basah, kadang pipiku kering, kala mata dan hati tak sanggup ku tahan
Jiwa-jiwa itu ku harap bahagia
Walau diri rapuh melupa
Aku hanya berpasrah pada Rabb ku,
Pada Nya aku hidup, dan pada Nya aku mati
Andai saja Dia tak memberiku nyawa, akankah kurasakan cinta yang hidup pada utuhnya hati?
Dan aku....tak akan melupa bahwa hidup adalah tulisan amanah dari Nya, Rabb ku yang ku cinta.
-----
17 april 2018
Liliana supono
Lepaslah lirih
Aku gemuruh diam tertabuh, legam asa lirih tertatih.
Meniup angin yang tak terbaca, meraih awan yang tak teraba.
Aku kelam jumpa sang kata
Melirik waktu dan tak bernada
Habis sudah upaya buta
Menampik nyata terbuai mata
Aku kelam dalam menepi
Aku, aku.
---
17 april 2018
Liliana supono